Kelahiranku
Saat
aku terlahir di dunia ini, ayahku pernah bercerita bahwa ia mendengar
suara tangisku yang menjerit begitu keras. Dokter dan suster yang ikut
membantu proses kelahiranku pun begitu bingung karena aku tidak berhenti
menangis meski mereka sudah menimang dan menghiburku dengan berbagai
cara. Awalnya, aku tidak mengerti mengapa aku terus menangis dan tidak
bisa dihentikan oleh siapapun. Suster yang bingung kemudian menyarankan
dokter untuk meminta Ayah yang sedang berada di ruang tunggu untuk
melihatku.
Dengan
terburu-buru, Ayah memasuki ruangan inkubator dan ia menyentuh jari
pertamanya pada wajahku yang lahir prematur. Ia menitikkan air mata
melihatku dan aku pun secara ajaib berhenti menangis. Ayah mengangkat
tubuh mungilku yang hanya seberat beberapa gram saja. Ia melihatku
berhenti menangis. Suster-suster heran ketika suara tangisku akhirnya
berubah bersuka cita. Ayah menimang tubuhku dengan lembut sambil
berkata,
“Mulai saat ini hanya kamulah yang paling berharga dalam hidup Ayah…” begitu kalimat pertamanya padaku.
Ya.
Aku adalah anak yang paling berharga baginya. Kelahiranku adalah dua
sisi yang cukup membuat Ayah begitu tertekan antara bahagia dan duka.
Duka
itu dimulai saat Ibu mengalami pendarahan hebat dan Ayah berada dalam
kondisi yang sulit ketika Dokter memberikannya dua pilihan: Pertama, aku
yang pergi dari dunia ini atau Ibu yang harus merelakan nyawanya.
Tanpa
mempedulikan saran Ayah, Ibu memilih untuk melahirkanku daripada harus
mengaborsi bayi prematur yang telah ia rawat dengan penuh kasih
sayang. Ia melupakan semua saran dokter demi aku: Sang janin kecil yang terus membuat nyawanya terancam.
Ayah
menginginkanku di dunia ini seperti halnya Ibu. Tapi Ayah tidak ingin
membuat Ibu bersedih dan bimbang melawan keputusan Ibu. Ayah terpaksa
menerima keputusan Ibu dan berharap keduanya dapat selamat dengan
mukjizat Tuhan. Di saat-saat kritis itu, dengan mengenggam erat tangan
Ibu, Ayah melihat sendiri Ibu menghembuskan nafas terakhirnya. Di saat
nafasnya akan berakhir, terdengar suara tangis pertamaku di dunia ini
dengan senyuman terakhir Ibu yang bahagia melihat kelahiranku. Saat
itulah ia pergi dariku dan Ayah.
Tuhan,
aku tidak pernah mengerti mengapa aku harus menjadi beban bagi hidup
ibuku. Andai saja aku tahu bahwa hidupku hanya untuk membuat ibuku
menderita, mungkin aku tidak akan memilih untuk terus hidup di dunia
ini.
Tapi
semua rencanaNya telah digariskan lewat takdir yang mempertemukan Ibu
dan ayahku. Dan oleh karena cinta merekalah aku terlahir ke dunia ini.
Ayah selalu berkata bahwa pernikahan mereka adalah hal terindah di
dunia ini. Sebagai keluarga kecil yang bahagia, tentu saja mereka
berharap ingin hidup bersama hingga waktu memisahkan mereka. Tapi
nyatanya perpisahan terjadi begitu singkat hanya setelah pernikahan dua
tahun itu dan kelahiranku adalah awal yang membuat dunia Ayah berubah.
Kini ia menjadi orang tua tunggal bagiku.
Di
saat Ayah menimangku dengan penuh kasih, seorang suster mendekat
padanya lalu bertanya dengan perlahan agar tidak membuatku kembali
menangis.
“Maaf Pak menganggu, bayi cantik ini akan diberikan nama siapa?” tanya suster itu pada Ayah.
“Angel! Berikan nama dia Angel,” kata Ayah.
Angel. Itulah namaku.
Nama
yang Ayah berikan untuk mengenang Ibu yang juga bernama Angel. Mereka
memiliki rahasia mengapa aku diberikan nama itu dan aku hanya akan tahu
pada saat usiaku nanti sudah cukup dewasa untuk mengerti arti kehidupan.
Karena
merasa nyaman, saat itu aku malah tertidur dalam timangan Ayah. Sambil
menciumku, Ayah kembali memberikan aku kepada suster agar dikembalikan
ke dalam ruangan inkubator supaya tubuhku merasa hangat.
***
Karena
aku lahir prematur, aku harus dirawat untuk waktu yang cukup lama
hingga aku bisa keluar dari Rumah Sakit. Ayah yang bingung, kemudian
meminta ibunya (nenekku) untuk merawatku. Selain harus menyiapkan
upacara pemakaman almarhumah Ibu, Nenek diharapkan dapat membantu
Ayah yang harus menjalani hidup-hidup beratnya saat ini. Nenek yang
tinggal di Jakarta, langsung terbang naik pesawat menuju Semarang. Ia
memberikan kekuatan besar dalam hidup Ayah saat itu. Dan darinya juga,
Ayah belajar banyak akan arti keikhlasan dan harus kuat untuk melihat
masa depan.
Ibu,
sebelum meninggal pernah meminta Ayah untuk tidak menguburkannya tapi
lebih memilih untuk dikremasi, kemudian meminta abunya dibuang di
lautan Jawa. Ayah menuruti permintaan terakhir Ibu dengan berat hati, ia
menyimpan sisa-sisa abu itu dalam sebuah kotak guci kecil yang ia
simpan di ruangan kamarnya dengan foto Ibu yang sedang tersenyum. Setiap
malam ia selalu menyalakan lilin minyak kecil untuk mengenang Ibu. Ia
tidak bisa sedih berlama-lama karena ada aku yang harus ia perjuangan
untuk terus hidup.
Setelah
dua bulan lamanya hidup dalam inkubator, akhirnya aku diperbolehkan
untuk pulang. Bersama dengan Nenek, Ayah belajar banyak bagaimana
caranya menjadi seorang ibu. Ia mulai mengerti bagaimana untuk menganti
popokku, membuatku berhenti menangis pada malam hari dan juga bagaimana
memandikanku dengan benar. Tapi yang paling sulit baginya adalah membuat
susu yang baik bagiku, sebab aku sangat sulit untuk minum susu bila
tidak hangat atau tidak manis.
Karena
tidak ada ASI ( Air Susu Ibu) dari ibu kandung, Ayah harus menambah
beberapa vitamin tambahan yang diberikan dokter agar aku dapat tumbuh
dengan sehat dan sempurna sesuai asupan gizi seusiaku. Bersama kedua
malaikat itu, aku pun tumbuh seiring berjalannya waktu. Ayah dan Nenek
bergantian menjagaku. Bila Ayah harus bekerja, Nenek dengan siaga
menjagaku dan begitu pula sebaliknya, bila Nenek sedang beristirahat,
Ayah akan menjagaku dengan sungguh-sungguh agar tidak menangis dan
menganggu istirahat Nenek yang sudah berusia 55 tahun. Saat itu usiaku
baru satu tahun.
Aku
tidak tahu betapa aku adalah bayi yang merepotkan karena Ayah bilang,
saat aku kecil, selalu buang air kecil setiap popok baru terpasang. Aku
juga tidak pernah mau mendengarkan semua nyanyian yang Ayah berikan
padaku ketika ia mencoba membuatku tidur. Aku juga selalu menangis dan
menangis bila merasa Ayah dan Nenek kurang memanjakanku atau apa yang
aku inginkan tidak mereka berikan. Semua masih baik-baik saja sampai
akhirnya Ayah mulai merasa aku telat bicara, karena seharusnya usiaku
saat itu (dua tahun) bahkan tidak pernah mengucapkan sepatah katapun,
padahal Ayah sudah mengajarkanku beberapa kata-kata ringan seperti
memanggil;
“Ayah…” atau “ Nenek…”
Sampai
akhirnya ketika usiaku menginjak tiga tahun, aku masih tidak pernah
bicara apapun dan Ayah merasa ada yang aneh dengan sikapku. Terutama
ketika aku tidak pernah merespon terhadap panggilannya. Ia malah
berpikir aku seorang autis karena pada saat itu ia sempat mendengar
perilaku balita sepertiku dapat dikatakan penderita autis. Untuk
membuatku tetap ceria, Ayah memberikanku banyak mainan boneka. Aku
sangat suka bermain dengan boneka-boneka yang Ayah bawakan setiap ia
pulang kerja.
Sampai
akhirnya pada saat aku bermain boneka, Ayah memandangku. Sedangkan
Nenek saat itu sedang di dapur untuk membuat makan malam kami.
“Angel!” teriak Ayah di hadapanku saat aku sedang asyik bermain boneka sapi kartun lucu.
Ia
kemudian mendekatiku, lalu membelakangi tubuhku, ia mengunakan kedua
tangannya di kepalaku sambil menepuk kedua tangannya dengan kencang.
Terdengar suara tepukan tepat di belakang kepalaku. Ayah melakukannya
berulang-ulang hingga ia berhenti dan menarik nafas panjang. Nenek yang
mendengar suara tepukan tangan itu keluar dari dapur menuju ruangan
dimana aku dan Ayah berada. Ia melihat tingkah Ayah dan bertanya,
“Sedang apa kamu Martin?” panggil Nenekku. Martin adalah nama Ayahku.
“Ibu,
aku merasa Angel tidak bisa mendengar apa yang aku lakukan, bahkan ia
tidak bisa merespon tepukan tangan tepat di belakangnya. Bila ia bisa
mendengar, harusnya ia akan terkejut. Tapi ia diam saja.”
Nenek
kemudian mendekatiku yang masih asyik bermain boneka. Ia memandangku
dan berbicara pada Ayah sambil memegang kepalaku dengan lembut.
“Ibu
juga merasa ada yang tidak beres dengannya. Bagaimana kalau kita coba
bawa ke dokter? Mungkin mereka bisa menemukan jawabannya.”
“Baiklah Bu. Aku akan mandi dulu. Setelah makan malam aku akan membawa Angel ke dokter.”
“Ibu juga ingin ikut,” kata Nenekku.
***
Sesungguhnya
kecemasan Ayah karena aku tidak bisa merespon dan mendengar apapun yang
diperintahkan sudah sejak lama disimpannya, tapi ia mulai menyadari
bahwa aku bukanlah anak autis. Pikiran itu akhirnya runtuh sampai hari
ini. Ia benar-benar harus mencoba mencari tahu apa yang terjadi padaku.
Setelah aku menikmati makam malam buatan Nenek dan merasa kenyang, aku
tertidur dan ketika terbangun, aku sudah berada di Rumah Sakit. Seorang
dokter tampak sedang memeriksa telingaku dengan senter kecil berwarna
putih yang cukup aneh bagiku.
Dokter
perempuan itu tersenyum padaku. Lalu usai pemeriksaan itu, Nenek
langsung mengajakku untuk jalan-jalan di sekitar ruangan Rumah Sakit,
agar tidak mengganggu pembicaraan Ayah dengan Dokter.
Ayah berbicara dengan Dokter Intan yang notabene adalah seorang spesialis telinga.
“Bagaimana Dok, dengan kondisi Angel? Mengapa dia tidak bisa merespon panggilan dan kata-kata saya?”
“Dengan sangat menyesal, saya harus mengatakan kalau anak Bapak adalah seorang tunarungu…”
“Tunarungu? Bagaimana bisa?” (Tunarungu: orang yang terlahir cacat pada pendengarannya)
“Melihat
catatan kelahiran dan kesehatannya, pada anak Bapak yang lahir secara
prematur, segala kemungkinan bisa terjadi. Tunarungu adalah salah satu
hal yang bisa terjadi pada setiap anak-anak yang terlahir secara
prematur. Jadi dalam dunia medis, cacat lahir bawaan ini adalah hal yang
bisa terjadi di setiap 10 banding 1000 kelahiran bayi.”
Ayah terdiam.
“Bapak
tidak perlu bersedih ataupun panik, dewasa ini sudah banyak pendidikan
dan orang yang hidup dengan kondisi yang sama dengan anak Bapak. Anak
Bapak tetap bisa memiliki masa depan yang baik. Bila sejak dini kita
mendidik dan mengajarinya, kelak anak itu akan tumbuh seperti anak-anak
normal lainnya dan masyarakat kita sudah bisa menerima keadaan seperti
ini.”
“Tapi
keadaan ini sangat membuat saya sedih. Kasihan anak itu, ia tidak
menyadari keadaannya, apa yang harus saya lakukan untuk memberitahunya?
Apa yang harus ajarkan padanya saat ia mulai tumbuh jadi besar? Dan yang
paling saya cemaskan, bagaimana caranya ia tau keadaannya sendiri? Apa
yang harus saya jelaskan sedangkan dia sendiri tidak bisa mendengar dan
bahkan tak mengerti apa yang saya katakan?” kata Ayah dengan wajah
sedih dan menahan air mata.
Dokter
mencoba membuat Ayah tegar, lalu berpikir sejenak sampai akhirnya ia
mengambil kartu nama dan memberikannya pada Ayah. Dokter
merekomendasikan seorang kenalan yang ia pikir bisa membantu masalah
Ayah.
“Begini
saja, saya memiliki seorang kenalan yang sudah berpengalaman untuk
mendidik bagaimana caranya menjadi orang tua tunarungu, mungkin ia bisa
membantu Bapak dalam masalah ini.”
“Maksudnya ‘dia’ Dokter?”
“Beliau
adalah seorang ibu yang juga memiliki anak tunarungu. Beliau berhasil
menjadi pendidik bagi orang tua yang melahirkan anak-anak tunarungu.
Saya yakin dengan senang hati ia akan membantu Bapak agar bisa menjadi
orang tua yang baik. Simpanlah kartu nama ini, katakanlah bahwa saya
yang merekomondasikannya pada Bapak.”
“Terima kasih Dokter!”
Ayah
keluar dari ruangan Dokter dengan wajah sedih. Ia membaca kartu nama
itu dengan teliti dan berharap banyak pada Ibu yang berpengalaman itu
dapat menyelamatkan hidupku. Saat itu, Nenek baru saja memberikanku
eskrim coklat dan ketika melihat Ayah aku langsung mendekatinya. Nenek
bertanya kepada Ayah yang tampak murung.
“Bagaimana hasilnya, Tin?”
“Angel positif tunarungu, Bu…”
Nenek
ingin menangis ketika mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ayah,
tapi ia tidak ingin membuat Ayah lebih bersedih. Di saat seperti ini,
hanya dialah orang yang bisa menghibur dan menguatkan hati Ayah untuk
membesarkanku. Ayah memang bukanlah seorang ibu, tapi ia memiliki ibu
yang berpengalaman merawatnya hingga dewasa seorang diri tanpa suaminya
(Kakekku). Kakek meninggal saat ayah berusia tiga tahun karena
kecelakaan kereta api. Apa yang terjadi pada Ayah saat ini, seperti
halnya pernah terjadi pada Nenek saat itu.
Tapi
Nenek memang luar biasa, ia berhasil hidup menjadi orang tua tunggal
bagi Ayah dan kini ia harus membuat Ayah juga sekuat Nenek.
Mengapa Aku Terlahir Cacat?
Mungkin
hanya Tuhan Yang Maha Tahu untuk menjawabnya. Bagaimanapun dan apapun
keadaanku, inilah jalan yang harus aku lalui. Mungkin dari sejak awal,
Ayah sudah menyadari apa yang akan terjadi padaku ketika dulu sebelum
aku terlahir, ia mendapat peringatan keras dari dokter untuk melarang
kelahiranku. Tapi ia juga paham, Ibu yang berhati mulia seperti istrinya
tidak akan pernah tega melakukan apa yang dokter sarankan walau
kematian adalah ancaman terbesar baginya.
Ibu
dan Ayah, sejak dulu memang sudah harus melalui penderitaan cinta untuk
bersatu. Ibuku tiga tahun lebih tua dari Ayah. Ia adalah seorang putri
dari orang tua yang sukses dan kaya. Ayahku hanya seorang anak yang
terlahir dari ibu tunggal yang bekerja sebagai pembuat kue. Mereka
dipertemukan oleh Takdir di saat Ayah yang mendapatkan beasiswa belajar
musik di sekolah musik terkenal sedangkan Ibu adalah seorang senior di
sekolah musik itu. Ibu melihat bakat Ayah yang cukup tinggi dalam
bermain piano.
Ibu
terkesan dengan Ayah yang begitu mahir bermain piano. Ia secara tak
sengaja mendengar permainan piano Ayah saat hendak masuk ke kelasnya.
Bukannya masuk ke kelasnya sendiri, ia malah terduduk di kursi kelas
Ayah. Saat Ayah selesai bermain piano, Ibu memberikan tepuk tangan
meriah pada Ayah. Ayah yang saat itu berusia empat belas tahun hanya
tersipu malu melihat ibu yang cantik memuji permainannya. Sejak saat itu
mereka pun berkenalan. Dengan malu-malu, Ayah mengenalkan dirinya
pada Ibu yang usianya tiga tahun lebih tua darinya.
“Angel…” kata Ibu sambil pergi meninggalkan Ayah.
Awalnya,
Ayah mungkin melihat Ibu sebagai cinta monyet pertamanya. Tapi ketika
ia mulai mencoba mencari tahu tentang Ibu, hatinya langsung ciut ketika
melihat Ibu setiap hari pulang-pergi ke tempat sekolah musik dengan
supir dan mobil mewah. Ia tidak punya nyali untuk mendekati Ibu dengan
hanya bermodalkan sepeda butut peninggalan ayahnya. Dan ia pun tidak
pernah mencoba untuk mendekati Ibu karena ia sudah sadar dari sejak
awal, hanya dalam dongeng mimpi ia bisa mendapatkan gadis secantik
Ibu.
Beberapa
waktu kemudian, tanpa sengaja Ayah melihat Ibu yang menangis di tangga
sekolah musik. Saat itu ia hendak naik ke lantai atas dan berpapasan
dengan Ibu yang tampak sedang menangis. Ayah mencoba melewatinya tapi
Ibu memintanya berhenti sambil berkata,
“Memangnya kamu tidak bisa apa menghibur seorang gadis yang sedang menangis? Jangan hanya lewat dan diam saja dong!” kata Ibu.
“Maaf, aku takut membuatmu marah, karena itu tidak ingin mengganggumu.”
“Kan kamu bisa tanya kenapa aku menangis? Gimana sih!” pinta Ibu membuat Ayah bingung.
“Tuh kan bingung, ayo tanya padaku kenapa aku menangis?!” teriak Ibu. Ayah menurutinya dengan gugup.
“Kenapa kamu menangis Angel?”
Ketika
mendengarkan pertanyaan itu, yang ditanya malah berteriak menangis
semakin kencang. Banyak orang yang mendengar tangisan itu langsung
mendekat dan berpikir bahwa Ayah yang membuat Ibu menangis. Ayah tampak
bodoh disudutkan dengan kondisi itu, apalagi supir Ibu langsung membawa
Ibu pergi begitu saja. Sejak saat itu Ayah merasa menjadi terdakwa dan
memutuskan untuk tidak sekolah musik lagi karena tidak ingin menjadi
olok-olokan teman-teman sekelasnya.
Nenek bingung dengan Ayah yang tidak lagi sekolah musik, padahal ia sangat berharap mendapatkan beasiswa itu sejak lama.
“Kamu tidak sekolah musik lagi, Tin?” tanya Nenek.
“Males
Bu, anak-anak orang kaya pada sombong, belajar di rumah juga sama aja.
Toh itu piano tetap bisa jalan kan walau gak perlu belajar tambahan
lagi?”
“Ya terserah kamu saja, yang penting kamu jangan lupa sekolah kamu yang utama, sekolah musik itu kan cuma tambahan saja.”
Menghabiskan
waktu di rumah, Ayah ikut membantu Nenek menjaga toko rotinya. Tanpa
ia sangka, Angel muncul di tokonya untuk membeli kue. Ia terkejut
melihat Ayah yang sudah lama ia cari dan ini adalah pertemuan yang sudah
ia nantikan.
“Ternyata kamu kerja di sini ya?”
“Enggak kok, ini toko roti ibuku.”
“Oo… begitu. Martin, itu kan nama kamu?” tanya Ibu.
“Iya, Martin.”
“Kenapa kamu gak sekolah musik lagi?”
“Gapapa, aku lagi pengen bantu ibuku saja, kebetulan para pegawainya lagi pulang kampung.”
“Jadi
bukan karena kejadian saat itu kan?” tanya Angel sekedar untuk
mengingatkan kejadian tangisnya yang heboh di sekolah musik.
“Bu… bukan!” jawabnya gugup.
“Baiklah kalau begitu, aku beli sepuluh roti isi coklat. Tolong dibungkus!”
Ayah
dengan cepat mengemas roti pesanan Ibu dan beberapa saat kemudian
menyerahkan sekantung roti penuh pada Ibu. Sambil memberikan uang, Ibu
berkata,
“Aku
minta maaf ya atas kejadian kemarin, aku sedang ada masalah pribadi
saja. Kapan-kapan kalau kamu ada waktu, aku akan jelaskan,” ucap Ibu.
“Gapapa, dengan senang hati aku akan mendengarkan ceritamu,” kata Ayah tersipu malu.
Ibu
pun pergi dari toko dan Ayah hanya terdiam bingung. Hatinya senang
ketika gadis cantik itu meminta waktu untuk mendengar ceritanya.
Tiba-tiba Ibu kembali lagi sambil berkata,
“Hai, besok di sekolah musik aku akan tampil. Kamu datang ya jam dua siang,” kata Ibu yang kemudian pergi begitu saja.
Ayah
benar-benar seperti mabuk kepayang dengan permintaan Ibu. Hatinya
begitu senang hingga membuat Nenek harus mengetuk kepalanya dengan
sendok adonan hingga tersadar dari lamunan.
“Ibu, aku mau lanjutin sekolah musik lagi!” teriak Ayah.
“Lah, tadi katanya bosen, gimana sih!! Sudah jangan aneh-aneh, mandi sana! Biar Ibu yang jaga sekarang.”
“Iya
tadi bosen, sekarang sudah enggak, besok aku sekolah lagi,” kata Ayah
pergi ke dalam kamar sambil menutup kepalanya dengan bantal.
***
Keesokan
harinya, Ayah benar-benar menepati janjinya untuk melihat penampilan
Ibu Ibu di sekolah musik. Saat itu banyak murid yang tampil menjalani
uji kelayakan naik kelas atau level. Ayah datang saat Ibu sedang berada
di atas panggung. Banyak penonton yang begitu terhanyut oleh alunan
musik piano klasik yang Ibu mainkan. Sesekali Ibu menolehkan wajahnya
ke arah penonton dan berharap Ayah ada di sana hingga akhirnya setelah
beberapa kali menoleh, ia menemukan Ayah yang sedang berdiri karena
tidak kebagian kursi.
Setelah
musik selesai, tepuk tangan Ayah terdengar paling nyaring di antara
yang lain. Ibu tertawa kecil melihat Ayah yang memuji penampilannya.
Sejak saat itu keduanya pun menjadi dekat. Mereka selalu menghabiskan
waktunya di sekolah musik bersama. Itulah cinta monyet pertama Ayah.
Walau mereka tidak pernah mengatakan cinta dan menyatakan berpacaran,
keduanya selalu dekat dan saling menghabiskan waktu bermain musik piano
sebagai bentuk jalinan cinta mereka.
***
Cinta
mereka tidak selamanya berjalan baik. Empat bulan setelah masa-masa
indah itu, Ibu harus melanjutkan pendidikannya ke Amerika yang disambut
Ayah dengan penuh kesedihan. Memang jarak cinta dan usia sangat
berpangaruh terhadap hubungan mereka. Ibu yang lulus dari bangku SMA
harus melanjutkan kuliah sedangkan Ayah justru baru saja masuk SMA.
Hal-hal itulah yang akhirnya membuat mereka sulit bersama.
Ayah
begitu berat melepaskan Ibu di saat terakhir pertemuan mereka. Mereka
menghabiskan waktu dengan bermain piano bersama. Di antara suara alunan
piano, mereka pun bicara dengan hati yang terluka.
“Kalau aku pergi dari sini, apa kamu akan tetap sekolah piano disini?” tanya Ibu.
“Tidak, aku akan kembali membantu Ibu dan fokus pada sekolah umumku.”
“Kenapa, kamu kan suka main piano apalagi kamu sekolah di sini kan tidak dipungut biaya?”
“Tidak ada kamu di sini itu hanya membuatku sulit untuk melupakan kenangan kita,” kata Ayah dengan wajah sedih.
“Aku mungkin tidak akan kembali,” ucap Ibu kemudian membuat Ayah kaget.
“Kenapa kamu tidak kembali? Padahal aku berjanji untuk menunggu kamu sampai kembali.”
“Semua
tergantung ayahku. Ia yang memutuskan, kalaupun harus kembali itu harus
setelah aku selesai kuliah, memangnya kamu sanggup apa menunggu sekian
tahun?”
“Aku pasti sanggup!”
Ibu
hanya tersenyum. Ia sedikit lebih dewasa untuk menahan tangis di
samping Ayah. Dan itulah saat-saat terakhir mereka bersama, dalam sebuah
ruangan dan bermain piano bersama. Ibu pun pergi melanjutkan pendidikan
kuliahnya di Amerika, sedangkan Ayah memutuskan keluar dari sekolah
musik dan fokus pada sekolah pendidikan umumnya. Di hatinya hanya ada
satu hal: ia akan terus menunggu dan menunggu hingga Ibu kembali walau
ia tidak pernah tahu kapan itu terjadi.
***
Lima tahun kemudian…
Ibu
kembali saat usianya sudah 23 tahun. Ia mungkin sudah melupakan Ayah
untuk waktu yang lama. Ayah telah menjadi seorang pemuda tampan berusia
20 tahun. Ia baru saja lulus kuliah dan bekerja pada perusahaan dimana
ayahnya Ibu adalah pemiliknya. Mereka bertemu saat Ibu tidak sengaja
mampir ke kantor ayahnya. Saat itu di sebuah sebuah lift, Ibu dan Ayah
saling berpapasan. Ayah tidak akan pernah lupa wajah Ibu yang cantik
dan begitu pula sebaliknya. Keduanya salah tingkah tapi bahagia dengan
pertemuan itu kemudian keduanya sepakat untuk melanjutkan pertemuan itu
dengan makan malam.
Ayah
tidak pernah tau kalau perusahaan keuangan yang ia tempati adalah milik
Ibu. Ia pun tak menyangka bahwa Ibu akan bekerja di tempat yang sama.
Keduanya semakin dekat hingga Ayah menepati janjinya kepada Ibu.
Ia
tidak pernah memiliki seorang kekasih pun setelah berpisah dengan Ibu.
Lain halnya dengan Ibu yang sudah memiliki beberapa kekasih dan itu
ditunjukkannya kepada Ayah lewat foto-foto saat ia bersama mantan
kekasihnya di Amerika.
Ayah
pun tidak peduli dengan semua itu. Baginya yang terpenting saat ini ia
sudah bisa bertemu dengan Ibu kembali dengan hati yang sepenuhnya
mencintainya. Hati Ibu pun luluh melihat Ayah sebagai sosok pria sejati
yang layak mendampingi hidupnya.
Sayang
seribu sayang, kisah cinta mereka akhirnya sampai ke telinga Kakek. Ia
marah karena tidak sudi melihat Ibu berpacaran dengan karyawan
rendahannya. Ia malu dan gengsi dengan hubungan tersebut. Tanpa sebab
yang jelas, Kakek memecat Ayah hingga membuat Ibu sangat marah. Ibu pun
menyadari bahwa hubungannya telah diketahui ayahnya. Ia protes padanya.
“Kenapa
Ayah tidak bisa memisahkan masalah pribadi dan perkerjaan? Jangan
sewenang-wenang memecat Martin, ia tidak memiliki kesalahan dan bekerja
dengan baik untuk perusahan kita!”
“Ia memang bekerja dengan baik tapi menghancurkan impian Ayah dengan baik juga terhadap kamu.”
“Angel sudah besar Ayah. Angel tau apa yang pantas Angel lakukan.”
“Pantas?
Menurutmu pantas berpacaran dengan seorang karyawan rendahan dan
seluruh karyawan di sini menggunjingkan ayahmu? Dimana letak urat
malumu? Memangnya kamu sudah tidak laku sehingga harus pacaran dengan
orang rendahan seperti itu?”
“Martin
pria yang baik dan tidak serendah yang Ayah pikirkan. Kalau Martin
dipecat, mulai hari ini, Angel pun angkat kaki dari perusahaan ini!”
Sejak
saat itulah hubungan Ibu dan Kakek menjadi berantakan. Ibu sadar, Ayah
pasti tahu mengapa ia dipecat dari perusahaan. Dengan berbesar hati ia
menerima semua keputusan perusahaan dan tidak masalah baginya karena ia
bisa bekerja pada perusahaan lain. Hubungan cinta itu terus berjalan
tanpa sepengetahuan siapapun hingga dua tahun kemudian, mereka
memutuskan untuk melanjutkan hubungan ini ke arah yang lebih serius
ketika ibu berusia 25 tahun.
Ayah
melamar Ibu di depan keluarganya dan langsung mendapatkan hujatan.
Melihat tindakan nekad itu, kedua orang tua Ibu memutuskan untuk
membawanya ke Amerika dan membuat cinta mereka terpisah. Awalnya semua
berjalan dengan baik, tapi di saat-saat terakhir sebelum
keberangkatannya, Ibu berhasil melarikan diri. Ia kabur ke rumah Ayah di
bawah hujan yang deras. Di samping nenek, Ibu memohon untuk tinggal
bersama Ayah.
Nenek
yang tidak tega dan lebih berpikiran luas akhirnya mengizinkan keduanya
tinggal bersama. Karena cepat atau lambat, orang tua Ibu akan
mencarinya, maka keduanya pun memutuskan untuk kabur ke kampung halaman
Ayah di Semarang. Di sana mereka hidup bersama dan akhirnya merayakan
pernikahan secara resmi dengan membawa sedikit saksi-saksi yang dapat
membuat sah pernikahan mereka. Ibu kembali dengan surat nikah ke
hadapan orang tuanya bersama Ayah.
Dengan wajah penuh emosi, saat itu Kakek berkata,
“Mulai saat ini, kamu bukanlah anakku lagi, pergi dari rumah ini!”
Dengan
tangis, Ibu pergi meninggalkan rumah dan kemewahan miliknya. Sebelum ia
pergi, adik kandung satu-satunya memberikan sedikit uang yang langsung
mereka tolak. Adik Ibu memaksa dan berharap uang itu bisa digunakan
untuk masa depan keluarga kecil ini karena setelahnya, mungkin mereka
tidak akan pernah bertemu lagi dengan mereka. Keluarga besar Ibu
memutuskan untuk selamanya menetap di Amerika dan meninggalkan semuanya.
Simpanan
uang yang diberikan adik Ibu akhirnya dijadikan bekal membangun sebuah
keluarga di Semarang, kampung Ayah. Ibu membuat kursus musik secara
pribadi dan Ayah berkerja di kantor keuangan.
Setahun
kemudian, Ibu mulai mengandungku. Keluarga kecil itu begitu bahagia
melengkapi kehidupan barunya hingga Ibu memutuskan untuk berhenti
mengajar les piano dan fokus pada bayi kecil yang kelak menjadi diriku
di masa depan.
Sebulan
aku dalam kandungan, Ibu mulai tampak telihat aneh. Ia sering merasa
sakit dan tubuhnya melemah. Ayah mulai cemas karena Ibu tidak seperti
ibu hamil lainnya. Apalagi Nenek juga melihat keanehan karena semakin
besar usia kandungannya, Ibu semakin terlihat tidak sehat. Ayah membawa
Ibu ke dokter dan inilah hal yang paling memilukan terjadi dalam
kehidupan mereka. Tanpa mereka sadari, ada hal lain dalam hidup mereka
yang tidak bisa disatukan.
Ayah
memiliki darah yang bertolak belakang dengan Ibu. Ayah memiliki rhesus
darah positif sedangkan Ibu memiliki darah rhesus negatif. Dalam dunia
kedokteran, kedua darah tersebut tidak diperbolehkan untuk bersama.
Pernikahan yang terjadi tanpa pernah melihat apa yang membedakan mereka
itu pun akhirnya menjadi masalah bagi Ibu. Ibu mengandung aku yang
memiliki rhesus darah positif milik Ayah dan itu membuat tubuh Ibu
menolak kandungan Ibu.
Dan
akibat perbedaaan itu, usia kandungan yang semakin besar membuat tubuh
Ibu semakin menderita. Dokter menyarankan Ibu untuk mengugurkan
kandungan, tapi Ibu menolak keras rencana itu. Bagi Ibu, aku adalah
segalanya dalam hidup. Ayah tidak bisa melakukan apapun dan tidak juga
menyarankan Ibu untuk mengugurkan kandungannya. Karena ia tahu, Ibu
begitu mencintai aku dan tidak akan pernah mau melakukan tindakan kejam
itu. Tindakan Ibu yang tegas akhirnya hanya membuat dokter mengikuti
kehendaknya tapi ia mengingatkan Ibu bahwa Ibu bisa kapan saja
mengalami kondisi kritis bila aku dipertahankan.
Dengan
bertahan di atas kesakitan dan maut yang siap kapan saja menjemput, Ibu
percaya bahwa Tuhan menciptakan aku dalam hidupnya dengan penuh tujuan.
Akhirnya setelah masa-masa penuh derita itu, saat usia kandungan
mencapai tujuh bulan, Ibu tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri. Ayah
membawanya ke dokter untuk dirawat di unit gawat darurat. Saat itu
dokter memutuskan untuk mempercepat proses kelahiranku karena kondisi
Ibu akan semakin sangat kritis bila aku terus bertahan.
Tanpa
pernah melihatku saat matanya terbuka, Ibu meninggal saat aku
benar-benar berhasil diselamatkan oleh dokter. Ayah hanya bisa
termenung sedih melihat kepergian Ibu yang begitu mendadak. Tapi ia
selalu teringat janjinya pada Ibu di saat Ibu memutuskan untuk bertahan
dengan aku di dalam tubuhnya.
“Anak
ini… walau orang lain mengatakan tidak pantas untuk dilahirkan, bagiku
ia adalah malaikat yang hidup dihatiku, Martin. Kelak ketika ia lahir,
berikanlah nama Angel padanya. Karena Dokter bilang anak ini berjenis
kelamin perempuan.”
“Kenapa kamu berkata begitu?”
“Karena aku takut kamu lupa untuk memberikan nama ini, jadi aku ingatkan.”
Tak
pernah disangka Ayah, itulah pesan terakhir Ibu untuk Ayah sebelum ia
meninggal. Ayah hanya bisa menangis dan berusaha tegar untuk kedua
kalinya ia harus ditinggalkan Ibu. Dan kini, aku mengerti mengapa aku
menangis begitu kencang saat aku terlahir ke dunia ini. Mungkin karena
aku menangis untuk memanggil Ibu yang telah pergi untuk mengorbankan
jiwanya demi aku. Aku menangis karena aku ikut bersedih tidak pernah
bisa melihatnya seperti ia tidak pernah bisa melihatku ketika terlahir…
Aku Berbeda
Aku Berbeda
Aku
mungkin tidak akan pernah menyadari bahwa aku berbeda dengan
orang-orang yang ada di sampingku. Semuanya mulai kupahami, saat aku
sadar bahwa aku tidaklah sama dengan anak-anak lain yang kulihat. Ketika
berjalan bersama Nenek di halaman rumahku, mereka dapat berbicara
dengan mulutnya dan mendengar apa yang sulit kupahami. Aku tidak
mengerti apa itu yang disebut dengan pendengaran. Alat indra yang satu
ini tidak pernah ada dalam hidupku. Bahkan aku tak bisa mendengar
suaraku sendiri.
Aku
memiliki telinga dan fisikku tumbuh dengan baik saat berusia lima
tahun, tapi itu hanya tampak dari luar. Sesungguhnya aku tidak pernah
bisa mendengar apapun selain suara hatiku sendiri. Ayah yang dari
sejak awal menyadari aku cacat, tidak pernah mau mengatakan kalau aku
adalah seorang gadis cacat. Ia dan Nenek memperlakukanku selayaknya
gadis normal sejak dua tahun sebelumnya, setelah mendapatkan informasi
dari Dokter Intan tentang pelatih tunarungu.
Ayah
langsung menghubungi pelatih itu yang notabene seorang ibu yang tampak
sudah tua. Ia datang setiap hari ke rumahku untuk memberikan
pelajaran kepada Ayah dan Nenek tentang bagaimana cara berkomunikasi
denganku. Ayah dengan giat belajar pada ibu baik hati yang kupanggil
Bibi Anggun itu. Yang aku tahu, ia memiliki seorang anak yang juga
tunarungu. Jadi, ia memiliki perasaan senasib dengan orang tua yang
juga memiliki seorang anak tunarungu Baginya, menjadi pelatih orang tua
tunarungu adalah cara untuk berbakti sosial.
Setiap
hari setelah pulang kerja, Ayah belajar pada Bibi Anggun. Nenek juga
ikut serta, sedangkan aku malah asyik bermain boneka tanpa menyadari
bahwa kelak akupun akan mempelajari bahasa tangan dari Ayah. Ia dengan
cepat mengerti sedikit demi sedikit hal-hal yang harus ia ajarkan
padaku. Ia tidak mengajarkan aku secara keras, tapi ia menggunakan
sedikit permainan. Misalnya, apabila ia ingin mengatakan padaku bahwa
ini adalah seekor kelinci, ia akan menunjukkan dengan tangannya lalu
memperagakannya padaku.
Aku
yang saat itu masih kecil mengikuti saja apa yang Ayah ajarkan walau
itu sulit. Terkadang aku malah asyik bersama bonekaku, namun akhirnya
lama-kelamaan aku terbiasa untuk mengerti maksud Ayah. Aku mulai
mengerti bagaimana caranya untuk meminta minum pada Nenek, ingin bermain
atau bahkan ke toilet agar tidak buang air kecil di celanaku. Dua
tahun adalah masa-masa yang sangat sulit bagi Ayah, karena ia
menghabiskan banyak waktunya untukku dengan setulus hati dan tanpa
lelah.
Setelah
umurku cukup, Ayah menyekolahkanku di Sekolah Luar Biasa dimana aku
merasa sangat nyaman dan bertemu orang-orang yang sama denganku. Aku
memiliki banyak teman sepermainan yang mengerti apa yang hendak aku
katakan lewat bahasa tanganku. Di sekolah ini, setiap harinya aku
menghabiskan waktu selama lima jam dari pagi hingga siang hari sampai
Nenek menjemputkupulang. Sedangkan pada pagi hari Ayahlah yang bertugas
mengantarkanku sebelum akhirnya melanjutkan pergi ke kantornya.
Aku
memiliki banyak guru yang baik hati dan sabar untuk mengajari kami
anak-anak tunarungu, dengan sepenuh hati. Sahabat-sahabat kecilku saat
itu semuanya sangat baik. Ada Lina yang umurnya setahun lebih tua dariku
atau Andri yang sudah berumur sepuluh tahun tapi masih perlu belajar
banyak bahasa isyarat tangan. Rasanya, aku selalu ingin bersama
teman-temanku ketika pulang dari sekolah. Namun kini, duniaku sudah
berubah. Aku tidak punya teman untuk berbagi cerita selain Nenek yang
terkadang sibuk dengan pesanan tetangga-tetangga yang menyukai rotinya.
Pernah
suatu ketika, aku mencoba untuk keluar dari rumahku seorang diri saat
Nenek sedang asyik membuat roti dan pintu terbuka lebar. Aku selalu
mengingat jalan menuju sekolahku dan berpikir untuk sekali-sekali
berjalan ke sekitar taman komplek. Di sana banyak mainan yang disediakan
untuk anak-anak. Ada sekolam pasir, ayunan dan kincir angin kecil yang
sesungguhnya membuatku begitu ingin mencobanya.
Saat
aku tiba di taman, ada sekumpulan anak yang sedang bermain dan perawat
yang menjaga tak jauh dari mereka. Aku mendekat dan langsung mencoba
ayunan yang kosong. Namun tanpa aku sadari, ada seorang anak laki-laki
menunggu giliran dan melihat ke arahku. Ia terus berteriak padaku namun
aku hanya terus mengayun tanpa henti. Karena kesal, ia pun menahan tali
pengikat ayunan dan aku agak terkejut sambil memperhatikannya.
Dia berteriak padaku.
“Gantian dong, ini kan mainan bersama!”
Aku
tidak mengerti apa yang ia katakana, jadi kuteruskan bermain. Kemudian
ia menangis karena merasa aku terlalu egois sehingga anak-anak lain pun
berkumpul. Semua melihatku dengan tatapan aneh dan aku merasa seperti
seekor harimau di atas panggung sirkus. Aku berhenti dan memperhatikan
mereka. Semua saling bicara satu sama lain, sedangkan aku hanya bisa
terdiam seperti merasa ada sebuah penolakan padaku.
“Ini kan anak cacat yang tinggal di samping komplek,” kata seorang anak perempuan yang tinggal tak jauh dari rumahku.
“O…
jadi dia cacat. Sudah cacat jahat lagi tidak mau gentian main, kasihan
Hendra nangis gara-gara anak cacat ini, kita laporin suster yuk!” ujar
salah satu anak laki-laki lain. Aku baru menyadari bahwa anak yang
menangis itu bernama Hendra.
Perawat
yang mereka sebut suster itu mendekatiku. Aku menjadi ketakutan. Semua
berteriak bahwa aku jahat seolah aku ini maling. Walau aku tidak
mengerti apa yang mereka katakan tapi tatapan mereka terlihat seperti
tidak menyukaiku,. Akhirnya aku pun berjalan meninggalkan tempat itu
sebelum perawat itu datang padaku. Mereka terus berteriak menghinaku
tapi perawat mereka justru hanya terdiam.
“Anak cacat jangan kembali, anak cacat jangan kembali,” teriak mereka berulang-ulang.
Aku
menoleh ke belakang dan pada saat itu juga hatiku pun sedih. Andai
saja aku mengerti apa yang mereka katakan, pasti aku akan lebih sedih
lagi. Aku pulang dan melihat Nenek begitu cemas menungguiku. Ia menarik
tanganku masuk ke rumah dan bertanya padaku lewat bahasa tangan.
“Kamu darimana Angel? Nenek cemas mencari – cari kamu!”
“Nenek,
mengapa aku tidak bisa mengerti apa yang anak-anak lain bicarakan?
Kenapa mereka mengusirku dan menunjukkan wajah yang tidak baik padaku?”
“Anak-anak mana?”
“Anak-anak di taman komplek,” ujarku sedih.
“Jadi kamu habis dari sana? Untuk apa?”
“Aku hanya ingin bermain ayunan, tapi mereka tidak suka padaku.”
Nenek lalu menarik tanganku dan membawaku ke taman tempat tadi aku bermain, kemudian Nenek berteriak pada anak-anak itu.
“Siapa yang melarang cucuku bermain di taman ini?”
Semua
terdiam dan berhenti bermain mendengar suara Nenek yang cukup terlihat
marah dari wajahnya. Seorang perawat mendekati Nenek dan mencoba
menjelaskan,
“Kenapa Nek?”
“Siapa yang melarang cucuku untuk bermain disini?”
Akhirnya
suster itu menjelaskan sesuatu kepada Nenek, sedangkan anak-anak lain
tampak ketakutan bahkan sebagian pergi meninggalkan taman. Aku
melihat mereka pergi dan langsung mendekati ayunan. Saat itu aku
langsung duduk dan mengayun diriku sendiri. Nenek sepertinya mulai
menyadari persoalannya dan terlihat lebih tenang dari sebelumnya setelah
perawat itu menjelaskan beberapa hal. Setelah perawat itu pergi, Nenek
mendekatiku. Ia terlihat begitu murung, perlahan ia membantuku untuk
mendorong ayunan.
Aku
tersenyum padanya dan berkata untuk lebih cepat. Nenek dengan senang
hati melakukan apa yang aku inginkan. Aku tertawa kegirangan karena
akhirnya bisa menikmati ayunan yang semakin kencang dan merasakan angin
menyentuh tubuhku dan membuat rambutku berterbangan. Nenek berhenti
mengayun dan melepas kacamatanya, air matanya terjatuh dan ia hapus
dengan perlahan. Saat ayunan berhenti, aku menoleh ke arah Nenek di
belakangku. Karena aku melihat Nenek menangis, maka kuhentikan ayunan
dan mendekatinya.
“Kenapa Nenek menangis?” tanyaku.
“Tidak apa-apa. Sudah puas mainnya?”
“Sudah. Ayah kapan pulang?” tanyaku lagi.
Nenek menundukkan badannya lalu mengatakan sesuatu padaku,
“Angel, lain kali kalau kamu ingin bermain ke mana pun, ajaklah Nenek. Nenek akan dengan senang hati menemani kamu.”
“Iya.”
Aku
yang masih kecil itu belum menyadari mengapa Nenek berkata demikian.
Karena sesungguhnya Nenek hanya bersedih di dalam hatinya. Ia sadar,
bahwa cucunya yang tunarungu, memiliki dunia yang berbeda dengan
anak-anak lain yang melihatku dengan aneh. Ia cemas melihat masa depanku
di dunia ini, ia cemas untuk membayangkan bagaimana aku nanti hidup di
dalam kehidupan bermasyarakat. Usianya yang sudah sepuh, memiliki
sedikit waktu untuk menjagaku. Saat aku tiba dirumah, ia berkata padaku,
“Angel,
belajarlah dengan benar di sekolah. Karena dengan begitu kamu akan bisa
mengerti bagaimana cara bicara dan berkomunikasi dengan orang lain.”
“Memangnya kenapa, Nek?”
“Karena itulah cara kamu untuk belajar tentang bermain, memiliki teman dan meminta pertolongan pada orang lain.”
“Aku kan sudah punya teman di sekolah. Mereka mengerti apa yang aku katakan dan semua tampak normal?”
Nenek
mungkin tidak ingin melanjutkan pembicaraan lebih dalam dan ia hanya
memintaku untuk belajar lebih giat. Dalam hatinya, ia ingin berkata
bahwa aku berbeda dengan orang lain yang normal. Satu-satunya cara agar
aku dapat hidup bermasyarakat adalah dengan belajar untuk mengerti
bagaimana cara untuk dapat hidup di dunia ini dengan keadaanku yang
tidak sempurna. Tapi ia mengurungkan niat itu karena sadar bahwa aku
masih terlalu kecil untuk mengerti arti kehidupan yang keras ini.
Nenekku yang baik hati, ia adalah malaikat yang selalu siap melindungiku walau harus kusadari usianya telah senja.
***
Di
sekolahku, aku mulai mempelajari bagaimana caranya berhitung, membaca
dan memperhatikan mimik muka atau gerak bibir untuk manangkap maksud apa
yang hendak dibicarakan lawan bicara. Aku berpikir itulah kehidupan
normal yang aku jalani dan merasa bahwa seisi kelasku juga sama dengan
kondisiku, jadi aku menikmati semuanya seiring berjalannya waktu.
Saat
mengambil raport kelas setiap semester, aku selalu mendapatkan rangking
satu dan itu membuat Ayah cukup senang. Saat pengambilan raport, wali
kelasku berkata kepada Ayah,
“Angel
terlalu pandai untuk bersekolah di tempat seperti ini, apakah Bapak
berpikir untuk menyekolahkannya di sekolah yang umum dan normal?”
“Tapi dia masih terlalu kecil dan saya tidak yakin.”
“Kami
para guru sepakat untuk mengatakan bahwa kemampuan pendidikan Angel
setara dengan anak kelas 6 SD di sekolah normal. Ia pandai berhitung,
menulis dan menangkap apa yang kami bicarakan lewat mulut juga tampak
seperti anak normal lainnya. Mungkin kesulitannya hanya tidak dapat
mendengar dan bicaranya kurang sempurna, tapi semua itu bukanlah
masalah.”
“Lalu apa saran Ibu?”
“Semua
pelajaran telah ia serap dengan baik. Walau usianya saat ini baru
delapan tahun, tapi ia sudah belajar dengan anak usia tiga belas tahun
tahun. Mungkin lebih baik ia disekolahkan di tempat yang normal. Saya
yakin Angel bahkan bisa lebih pintar dari anak-anak normal lainnya.”
“Akan kami pikirkan, karena sulit untuk membayangkan Angel sekolah umum. Saya takut ia tidak siap dan tidak bisa diterima.”
“Bapak
tidak perlu pesimis begitu. Sekarang, kami guru-guru akan fokus untuk
mengajarkan Angel untuk bahasa isyarat sehingga ia dapat dengan cepat
sekolah di tempat normal. Yang terpenting sekarang adalah kita
menyiapkan dia untuk ke depannya. Banyak kok anak-anak seperti Angel
yang akhirnya memutuskan untuk sekolah di tempat umum dan selama ini
tidak ada masalah.”
Ayah
hanya terdiam kemudian kami pulang ke rumah. Ketika makan malam, Ayah
dan Nenek berdiskusi, sepertinya Nenek sedikit tidak setuju dengan
pendapat Ayah. Ia lebih berharap aku bersekolah di tempat yang lama
karena ia tidak ingin aku terluka oleh anak-anak normal lain seperti ia
melihatku ketika di taman dulu. Ketika malam saatnya tidur, Ayah
mengantarkan aku hingga ke ranjang lalu mengajakku untuk bicara sebelum
tidur.
“Angel, apakah kamu merasa diri kamu berbeda dengan anak-anak lain?” tanya Ayah tampak serius.
“TIdak,” jawabku.
“Angel, apakah kamu tau, bahwa kamu adalah seorang tunarungu?”
“Tunarungu, bukannya semua teman-temanku juga tunarungu?”
“Tidak
semua anak-anak yang kamu tau itu adalah tunarungu. Kamu berbeda Angel.
Kamu tidak dapat mendengar dan hanya sedikit dari anak-anak lain yang
bisa mendengar. Bisa kamu pahami?”
Aku terdiam seperti tampak tidak mengerti.
“Baiklah, kalau begitu kamu lekas tidur sana,” kata Ayah menyerah dan hendak pergi. Aku meraih tangannya sambil berkata.
“Ayah,
yang aku tau tentang diriku, aku hanya ingin bersamamu. Itu saja cukup.
Aku tau, aku tidak mendengar dan tidak mengerti apa itu mendengar, tapi
aku merasa cukup dengan keadaanku saat ini. Aku bahagia memiliki
teman-teman yang bisa bermain bersamaku. Tidak sulit buat aku bicara
dengan mereka.”
“Tapi kelak kamu harus mencoba untuk hidup dengan lingkungan berbeda. Karena kamu akan terus tumbuh menjadi besar.”
“Hmm… teman-temanku juga akan tumbuh dewasa dan sama dengan kondisiku.”
“Kamu memangnya tidak ingin punya teman yang bisa mendengar?”
Aku
terdiam. Belum pernah terpikir olehku memiliki teman yang bisa
mendengar, malah berpikir bahwa bisa mendengar adalah sesuatu yang aneh.
“Aku tidak pernah berpikir tentang itu,” jawabku.
“Baiklah,
lupakan pertanyaan Ayah hari ini, lekas tidur. Besok kamu kan harus
sekolah. Ayah tidak ingin kamu terlambat bangun. Oke?”
“Oke,” jawabku.
“Selamat malam Ayah…” ucapku pada Ayah yang langsung menjawab dengan tersenyum.
Sejak
malam itu, aku mulai berpikir tentang sebuah pertanyaan dari Ayah.
Apakah aku bisa memiliki teman lain selain teman-temanku yang
tunarungu? Bagaimana rasanya memiliki teman yang bisa mendengar? Bagiku,
melihat orang lain bicara adalah sesuatu yang aneh. Dalam duniaku
hanya ada satu cara untuk berkomunikasi yaitu lewat bahasa tangan. Ayah
sungguh membuatku bingung dan berpikir tanpa henti dengan
pertanyaan-pertanyannya.
Sumber : Novel A. Devonar - Indonesia

Tidak ada komentar:
Posting Komentar